''nak jikalah ragu menyentakmu malu, usailah sudah gerah merusak kalbu, usah siksa ragu pergi susuri sepi. teruslah tapaki gunduk resah penghalang hati "
puan
itulah pituah abahku dulu
ketika perahunya tak bersauh
tak berpenghuni, penyampai keluh
dia terus berlayar jauh menuju rindu
itulah pituah abahku dulu
ketika perahunya tak bersauh
tak berpenghuni, penyampai keluh
dia terus berlayar jauh menuju rindu
saat cintanya bergulung diamuk gelombang
terombang ambing di hanyut bimbang
kau tau
dia bebas menghayal rindu
terombang ambing di hanyut bimbang
kau tau
dia bebas menghayal rindu
berbekal doa
dia coba mendayung sampai kehulu
tuk bersua pujaan rasa
yang menggerogoti putiknya nuansa, kelabu
dia coba mendayung sampai kehulu
tuk bersua pujaan rasa
yang menggerogoti putiknya nuansa, kelabu
puan
jikalah itu kau tau
abah melepas rindu
ia tetap menantang
tak perlu aral melintang
jikalah itu kau tau
abah melepas rindu
ia tetap menantang
tak perlu aral melintang
menelusuri gelap
membuatnya tak pernah kalaf
walau cintanya diamuk samudra
dia tak henti mengayuh suka
tak pernah melupa
demi bersua sang rembulan kawan cerita
membuatnya tak pernah kalaf
walau cintanya diamuk samudra
dia tak henti mengayuh suka
tak pernah melupa
demi bersua sang rembulan kawan cerita
puan
kukisah cerita abah adalah karena engkau
segala upaya harus kujangkau
demi kasih
tak boleh lekasku bersedih
kukisah cerita abah adalah karena engkau
segala upaya harus kujangkau
demi kasih
tak boleh lekasku bersedih
kini segala usai cinta kupendam, padam
tak ingin nanti, senja membungkamku kelam
kan kugapai segala mau
melepas: rindu
tak ingin nanti, senja membungkamku kelam
kan kugapai segala mau
melepas: rindu
2146
30042015
30042015
Puisi Karya : Jida T Karson
![]() |
| Kisah Abah : "Ketika Kau Rindu" |

0 Komentar untuk "Kisah Abah : "Ketika Kau Rindu""